Legenda “Danau Lau Kawar”
Cerita Rakyat Tanah Karo Sumatera
Utara
Danau Lau Kawar, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara
Danau
Lau Kawar, adalah satu danau yang berada di berada di Desa Kutagugung,
Kecamatan Naman Teran (dulu Kecamatan Simpang Empat), di bawah kaki gunung
berapi Sinabung, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
Menurut
masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau
Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama ‘Kawar’. Dahulu, daerah tersebut
merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama
penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah,
meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini.
Suatu
waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya
merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau
Pada
zaman dahulu kala tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat
subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya
bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah.
Suatu
waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang
lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan
tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan
menyelenggarakan upacara adat.
Pada
hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak.
Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang
indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan
bersama dalam upacara tersebut.
Pelaksanaan
upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran ‘Gendang Guro-Guro Aron’, musik khas
masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh
penduduk hadir dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang
sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun
cucunya turut hadir dalam acara itu.
Tinggallah
nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya. “Ya, Tuhan! Aku
ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan,
berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.
Dalam
keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta
itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan,
teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu,
remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya
saat-saat seperti itu.
Namun,
semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan
dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam
kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata
yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah
yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak,
menantu serta cucu-cucunya.
Ketika
tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut
berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging
panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk
membuat mereka bertambah lahap dalam menikmati berbagai hidangan tersebut.
Di
tengah-tengah lahapnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di
antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan
membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka
benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.
Sementara
itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit
pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau
menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah
ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.
“Aduuuh…!
Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak
mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar
menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di
dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak
memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.
Akhirnya,
si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat
kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu
menangisi nasibnya yang malang.
“Ya,
Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana
mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh
kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.
Beberapa
saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang
anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri
istrinya.
“Isriku!
Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada
istrinya.
“Belum?”
jawab istrinya.
“Kalau
begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya
pulang!” perintah sang suami.
“Baiklah,
suamiku!‘ jawab sang istri.
Wanita
itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan
makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.
“Baik,
Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke
rumah.
Sesampainya
di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari
kembali ke tempat upacara. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat
lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan
gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya
ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan!!.
Beberapa
potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya. “Ya, Tuhan! Apakah
mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa
makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.
Sebetulnya
bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah
perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang
tersisa hanyalah tulang-tulang.
Si
nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan
menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa
sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian
berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.
“Ya,
Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!”
perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Baru saja kalimat itu
lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat
dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit,
dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya.
Seluruh
penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis
meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar
dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.
Dalam
sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun
penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, desa itu
berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat
setempat, kawah itu diberi nama ‘Lau Kawar’.
Demikianlah
cerita tentang Asal Mula Lau Kawardari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara.
Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan
moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas,
yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan
menyia-nyiakan amanat.
Legenda
“Danau Lau Kawar” merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo,
Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki memiliki iklim yang sejuk dengan suhu
berkisar antara 16 sampai 17C dengan wilayah seluas 2.127,25 km2 ini terletak
di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara. Kabupetan ini dijuluki
Taneh Karo Simalem, karena kesuburan tanahnya.
Kabupaten
ini sangat kaya dengan keindahan alamnya. Salah satunya adalah keindahan Danau
Lau Kawar, yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten
Karo. Air yang bening dan tenang, serta bunga-bunga anggrek yang indah, yang
mengelilingi danau ini menjadi pesona alam yang mengagumkan.
Legenda “Danau
Lau Kawar”
Cerita Rakyat
Tanah Karo Sumatera Utara
Danau Lau
Kawar, Kabupaten Karo, Sumatera Utara
Sumber : http://rapolo.wordpress.com/
ARTIKEL TERKAIT:
Cerita Rakyat
- Pangeran Biawak Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Legenda Bukit Kelam Cerita Rakyat Kalimantan Barat
- Legenda Dewi Padi Cerita Rakyat Jawa Barat
- Putri Tangguk Cerita Rakyat Jambi
- Legenda Klentheng Ancol Cerita Rakyat DKI
- Asal Usul Nama Bali Cerita Rakyat Bali
- Kisah Leela dan Dewi Saraswati Cerita Rakyat Bali
- Raksasa Kala Rahu Menelan Bulan Cerita Rakyat Bali
- Jayaprana Dan Layonsari Cerita Rakyat Bali
- Timun Emas Cerita Rakyat Jawa Tengah
- Asal Mula Nama Irian Cerita Rakyat Papua
- Aji Saka Cerita Rakyat Jawa Timur
- Hikayat Cabe Rawit Cerita Rakyat Aceh Selatan
- Atu Belah Cerita Rakyat Gayo Aceh
- Anak Pipit dan Kera Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Asal Mula Nama Jaro Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Datu Pintit Cerita Rakyat kalimantan Selatan
- Legenda Gunung Halat Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Utuh Talungkup wan Pilanduk Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Ledakan Tiga Biji Limpasu Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Asal Mula Kisah Kambing Takutan lawan Banyu Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Asal Mula Nama Kampung Liang Tapah Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Puhun Binjai wan Puhun Jingah Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
- Kota Tanjung Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan
- Si Pujung Jadi Batu Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Puteri Ular Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Batu Gantung Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Danau Si Losung dan Si Pinggan Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Si Baroar, Cerita Rakyat Mandailing Sumatera Utara
- Asal Mula Nama Simalungun Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Legenda Kolam Sampuraga, Cerita Rakyat Mandailing Sumatera Utara
- Legenda Putri Bidadari Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Puteri Hijau Cerita Rakyat Medan Deli Sumatera Utara
- Legenda Tuak Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Putri Nai Manggale Cerita Rakyat Sumatera Utara
- Legenda Sigale-Gale
- Asal Mula Terjadinya Danau Toba Cerita Rakyat Sumatera Utara